 | Category: | Books | | Genre: | Comics & Graphic Novels | | Author: | Alan Moore and David Lloyd |
Bicara V for Vendetta tak lepas dari sosok Alan Moore-nya, yang merupakan penulis cerita dari novel grafis ini. Sudah menjadi trademark Alan Moore yang membuat novel grafis yang lain dari pakem novel grafis pada umumnya. Lebih gelap dan lebih berat. Tapi jika dari konteks kisah hero/superhero, karya-karya Alan Moore justru lebih cocok disebut ironi.
Lihat saja novel grafis Promethea yang terbit pada 1999. Novel-grafis "nyeleneh" ini menceritakan tentang seseorang yang memiliki kekuatan superhero yang telah diwariskan secara turun temurun pada orang-orang tertentu. Tapi alih-alih mempertunjukkan kedigdayaan tokoh superheronya yang nyaris sempurna, Alan Moore malah mempertunjukkan betapa seorang superhero pun bisa stres berat gara-gara musuhnya meramalkan bahwa sang superhero adalah si pembawa hari kiamat!
Begitu juga V for Vendetta. Novel grafis ini lahir dari sebuah ironi akan dunia pemerintahan Inggris tempat Alan Moore tinggal dan dibesarkan. Kebetulan saat novel grafis ini dilahirkan, Margareth Thatcher berkuasa sebagai perdana menteri di Inggris. Banyak kebijakannya yang dinilai bertangan besi oleh publik, termasuk oleh Alan Moore. Hal inilah yang membuatnya terinspirasi untuk membuat kisah V for Vendetta.
V for Vendetta sendiri sebenarnya tidak bisa dikatakan sebagai kisah superhero. Alih-alih punya kekuatan super, tokoh V sesungguhnya "hanya" seorang lelaki yang dipenuhi amarah dan rasa dendam pada rezim yang pernah menyekapnya laksana Nazi melakukan holocaust pada Yahudi, atau Israel melakukan aniaya pada rakyat Palestina. Berbekal amarahnya ini--dan pikiran radikal tentang kebebasan--tokoh V mulai membangun segalanya, mulai dari perlunya mengangkat senjata sampai pada perlunya faham anarkisme yang diterapkan oleh rakyat demi menggalang kekuatan melawan rezim yang sewenang-wenang.
Memang. Kalau kamu menilai bahwa ini komik tentang semangat revolusi ya memang begitu. Apalagi tokoh V sendiri digambarkan selalu menggunakan topeng yang notabene merupakan wajah seorang tokoh revolusi Inggris bernama Guy Fawkes. Makanya lumrah kalau di novel-grafis ini pun Alan Moore memasukkan "tinjauan teoritis" mengenai bedanya anarki dengan chaos.
"Kerusuhan dan keributan ini, V... Inikah anarki?" Begitu tanya Evey, yang tercantum dalam panel halaman 195. "Inikah dunia sesuka-hati?"
"Bukan," jawab V. "Ini hanya dunia ambil-apa-yang-kauinginkan. Anarki berarti 'tanpa pemimpin', bukan 'tanpa peraturan'. Bersama anarki datang masa ordnung, masa keteraturan sejati... Dengan kata lain keteraturan secara sukarela. Masa ordnung dimulai ketika siklus kebingungan gila dan tak terkendali... telah usai. Ini bukan anarki, Eve. Ini kekacauan."
Hal-hal berbau filsafat macam di atas tidak berhenti di sini. Melalui sosok V yang misterius bahkan disampaikan filsafat secara simbolis betapa mengkultuskan seseorang itu tiadalah gunanya. V digambarkan tidak pernah mau membuka topengnya. Baginya tubuh dan apa yang terlihat pada dirinya hanyalah daging. Suatu saat daging pasti akan membusuk. Tetapi GAGASAN yang dilahirkan daging dalam kepalanya tidak akan pernah membusuk. Itu pula sebenarnya yang memberikan kesan bahwa kedekatan V pada Evey semata-mata upayanya demi "pengkaderan".
Sekarang kita berbicara soal gambar dan pengadegan. Kalau boleh jujur, mungkin bagian ini kelemahan novel grafis ini. Meski sebenarnya tidak bisa disebut kelemahan, sebab novel grafis ini sendiri terbit pada era 80-an. Jadi tak heran kalau gaya gambarnya mash katro dan belum dipengaruhi gaya gambar ekspresif ala manga seperti yang sudah bisa ditemukan pada komik-komik keluaran Amerika Serikat sekarang. Mungkin kita hanya perlu membiasakan diri menikmati gaya gambarnya, terutama jika kita sudah terlalu lama larut dalam garis gambar dan pengadegan ala manga ^_^ Jika sudah terbiasa, barulah kita akan tahu bahwa sebenarnya novel-grafis ini cukup "romantis". Contoh yang paling gampang adalah pemilihan judul bab yang selalu diawali huruf "V". Juga pelafalan, "Remember... Remember the fifth of november," yang bagiku suatu bentuk romantisasi juga.
Romantisasi lain ditampakkan saat V melakukan pengeboman yang digambarkan seakan itu adalah sebuah orkestrasi di mana V sebagai konduktornya. Kemudian juga saat V menyusun sebuah kartu domino yang tidak hanya bermakna penggambaran estetis dari sebuah "dekorasi panggung" cerita, melainkan juga analogi betapa semua hal sesungguhnya tak lebih dari bagian sebuah "efek domino" makro!
Well, efek domino, makro, anarki, chaos, ordnung. Kedengarannya memang novel-grafis yang berat ya? Makanya pada bagian awal buku, David Lloyd--orang yang paling bertanggung jawab dalam menggambar novel-grafis ini--bilang bahwa novel grafis ini diperuntukkan bagi mereka yang tak pernah mematikan tivi saat program berita ditayangkan. Ada sesuatu yang akan berkaitan di sana. Bagaimanapun sejarah cenderung berulang, bukan?
Tapi lihat sisi baiknya. Kalau kamu terbiasa baca komik atau novel grafis yang ringan-tingan saja macam Doraemon atau Kariage-kun, tak ada salahnya sekali-kali baca novel-grafis macam ini. Dan kalau kamu kebetulan gemar membaca novel-grafis beginian, selamat. Itu artinya kamu sudah membaca novel-grafis yang menurutku worth-it buat nambah wawasan. Tinggal ambil saja pesan yang baiknya, dan buang pesan yang buruk, mengingat novel grafis ini tergolong kontroversial ^_^ Yang penting jangan beli untuk sekedar dikoleksi tanpa dibaca. Manfaatnya nggak akan kita dapat, Cuy--kecuali untuk tujuan buka komik rental! He he he 
| |
|